Ilustrasi beberapa mobil Tesla Model 3

Tesla tampaknya untung besar dengan pemesanan sebesar ini oleh satu perusahaan saja.

Hertz baru-baru ini memesan 100.000 unit mobil listrik Tesla yang akan disebar di Amerika Serikat dan sebagian benua Eropa mulai bulan depan. Pasar Amerika Serikat sendiri sangat menarik karena tingginya pengadopsian kendaraan listrik yang menjadi tren di sana, tentunya juga didorong oleh sebagian wilayah yang memberikan insentif dan juga penerapan aturan yang melarang mobil kendaraan BBM.

Hertz adalah perusahaan yang menawarkan jasa sewa kendaraan dan akan menjadikannya sebagai salah satu perusahaan terbesar di bidangnya.

Dilaporkan bahwa pemesanan ini senilai US$4,2 miliar (atau sekitar Rp59,5 triliun). Sebagai gambaran, angka ini setara dengan 1/10 produksi per tahunnya. Bisa dibilang langkah ini memungkinkan Hertz untuk menghalangi perusahaan sewa mobil lainnya untuk memesan dalam jumlah yang besar juga.

Tak hanya itu, dilaporkan juga bahwa kendaraan yang dipesan (kemungkinan Tesla Model 3) bukanlah versi paling murah dan sudah ditingkatkan dengan sejumlah fitur tambahan dan aksesoris. Disebutkan juga harga yang dibayar hampir sama dengan harga penjualan per unit.

Tren pengadopsian kendaraan listrik kian meningkat dari tahun ke tahun dan tampaknya belum ada tanda-tanda melambat walau rantai pasokan (supply chain) sedang bermasalah sekarang. Tidak mengherankan bahkan pabrik pembuat produk Apple sampai ikut memproduksi mobil listrik hingga busa listrik.

Para pelanggan Hertz nantinya akan memiliki akses ke jaringan pengisian baterai Tesla supercharger. Selain itu, tampaknya Hertz juga akan membangun infrastruktur pengisian kendaraan listrik sendiri.

Berita ini sangat menarik mengingat nasib Hertz yang jauh berbeda dibanding tahun lalu. Perusahaan ini sempat mengajukan bangkrut di tahun 2020 dan baru dianggap “sehat” kembali pada bulan Juni lalu. Knighthead Capital Management dan sejumlah perusahaan lainnya membeli Hertz dengan harga US$6 miliar (sekitar Rp85 triliun). Kini nilainya mencapai US$11,6 (sekitar Rp164,3 triliun) sebelum mendaftar ulang (relisting) di Nasdaq.

Sumber: Bloomberg