Makanan cepat saji dan plastik di sekitarnya

Makanan cepat saji memang tidak pernah dikenal sebagai makanan sehat atau menyehatkan. Namun ada bahan berbahaya lain yang mengintai.

Phthalates dan alternatifnya

Bahan itu bukan dari dalam makanan namun justru ada pada kemasannya. Kemasan plastik berbahan phthalates cenderung digunakan pada makanan terutama pada makanan cepat saji. Phthalates adalah plasticizer yang membuat plastik menjadi lebih lembut dan fleksibel.

Sayangnya paparan phthalates ini tidak baik untuk manusia karena mengganggu hormon dan bisa masuk ke dalam makanan. Banyak alternatif plasticizer perlahan digunakan untuk mengurangi bahaya paparan phthalates. Sayangnya masih sedikit penelitian yang mencoba melihat dan menganalisis pengganti phthalates.

Sebenarnya bahan phthalates ini ada di banyak tempat selain dari kemasan makanan. Sebut saja dari perangkat kedokteran, mainan, pakaian, hingga produk perawatan pribadi. Namun para ahli meyakini bahwa diet menjadi sumber paparan utamanya sekaligus dikonsumsi langsung ke dalam tubuh.

Phthalates pada dasarnya adalah pengganggu endokrin yang meniru atau menghalangi efeknya, atau juga mengganggu produksi hormon serta reseptornya. Bahan ini bisa mengganggu hormon tiroid dan steroid termasuk estrogen dan testosteron. Paparan intensif terhadap bahan ini sangat berperan terhadap kelainan pertumbuhan, reproduksi, dan metabolik seperti berkurangnya jumlah sperma, rendahnya fertilitas pada pria dan wanita, obesitas, hingga ADHD (attention deficit hyperactivity disorder).

Sampel penelitian

Para peneliti di Amerika Serikat melakukan penelitian untuk melihat paparan bahan plasticizer seperti phthalates atau alternatifnya di berbagai restoran cepat saji terkenal di sana seperti McDonald’s, Pizza Hut, Taco Bell, Burger King, Domino’s, dan Chipotle.

Secara keseluruhan, para peneliti menemukan tingkat plasticizer yang bisa terdeteksi pada total 64 sampel makanan. Semuanya terpapar tujuh dari delapan jenis phthalates dan tiga jenis alternatifnya. Sekitar 81% sampel terpapar DnBP (phthalates) dan 70% sampel terpapar DEHP (phthalates) sedangkan DEHT (alternatif) terdeteksi pada 86% sampel dan DEHA ada pada 41% sampel makanan cepat saji.

Selain itu makanan yang lebih banyak mengandung daging juga cenderung memiliki konsentrasi plasticizer yang lebih banyak dibanding makanan tanpa daging. Burger dan burrito (dalam contoh ini) memiliki tingkat plasticizer paling tinggi sedangkan pizza keju memiliki tingkat plasticizer paling rendah.

Tak hanya kandungan, kerumitan pemrosesan dan penyajian makanan juga tampaknya berpengaruh. Hal ini terlihat pada tingginya plasticizer alternatif DEHT pada burrito dan burger namun tidak ditemukan pada kentang goreng. Bisa jadi bahan untuk penyajian seperti sarung tangan plastik bisa memberikan paparan pada makanan yang perlu disajikan seperti burrito dan burger namun tidak tersentuh saat menyiapkan kentang goreng.

Batasan penelitian dan kelanjutannya

Tentunya masih perlu banyak penelitian dan penyempurnaan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam. Para peneliti perlu memperluas pendeteksian plasticizer pada barang-barang yang digunakan pada restoran-restoran cepat saji. Teknik yang digunakan untuk mendeteksi bahan itu juga masih terbatas karena hanya mampu mendeteksi konsentrasi tinggi saja, dalam hal ini pada sarung tangannya. Selain itu, mereka hanya melakukan penelitian ini pada satu kota saja yang kurang menggambarkan penelitian ini secara luas.

Hal ini juga sebaiknya menjadi perhatian bagi restoran cepat saji. Memang banyak restoran cepat saji yang mencoba mendorong makanan “daging” berbasis tumbuhan seperti McPlant dari McDonald’s untuk menambah menu yang dianggap “lebih sehat.” Mungkin saja langka berikutnya bagi korporasi-korporasi sekelas ini adalah mengurangi atau bahkan bisa menghilangkan bahan-bahan berbahaya pada kemasan makanan-makanannya.

Sumber: MedicalNewsToday