Ilustrasi anak menulis homeschooling di papan

Sebuah penelitian observasional yang dipublikasikan di PLOS ONE merinci beberapa potensi manfaat dan risiko dari homeschooling.

Homeschooling adalah kegiatan belajar mengajar anak-anak di rumah dibanding sekolah negeri atau swasta. Dulunya praktik ini dijalankan oleh kelompok-kelompok tertentu karena motivasi politik atau kepercayaan (agama).

Sedangkan pada kondisi pandemi seperti sekarang dan dukungan teknologi yang lebih memadai, homeschooling menjadi kegiatan yang wajar dan umum. Dengan adanya perangkat seperti laptop atau smartphone, para pelajar bisa mendapatkan ilmu selayaknya hadir secara fisik di sekolah namun dengan lingkungan yang lebih nyaman bagi mereka yaitu di rumah sendiri. Sangat sulit untuk menemukan sekolah yang benar-benar menerapkan kehadiran fisik 100% di sekolah tanpa adanya kegiatan belajar mengajar di rumah.

Pada penelitian terbaru ini, para peneliti mencoba mengungkap sejumlah manfaat dan risiko dari homeschooling dibanding kegiatan belajar mengajar tradisional. Para peneliti mengevaluasi data dari 12.288 anak-anak dari Growing Up Today Study (GUTS). Pengumpulan data ini dimulai pada tahun 1999 dan mencakup anak-anak perawat. Informasi yang dikumpulkan berisi anak-anak berusia 11 hingga 19 tahun, termasuk tempat mereka bersekolah.

Dari data tadi, mereka menemukan bahwa hanya ada beberapa perbedaan statistik yang signifikan antara anak-anak yang belajar di sekolah negeri/swasta dengan yang belajar di rumah saja. Perbedaan yang paling terlihat adalah anak-anak yang belajar di rumah lebih besar kemungkinan untuk ikut kegiatan sukarela, memaafkan orang lain, namun kemungkinan tidak akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka juga lebih kecil kemungkinan untuk mencoba narkoba serta menikah lebih dari sekali seumur hidup, dan juga mereka merasa memiliki misi dalam kehidupan.

Penelitian ini tentunya memiliki sejumlah keterbatasan. Para anak yang diambil datanya memiliki orang tua yang berpendidikan tinggi. Data yang dikumpulkan kurang bervariasi karena tidak mengambil data dari keturunan Hispanik atau keturunan non kulit putih lainnya.

Namun demikian, adanya penelitian seperti ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih mendalam terutama untuk kebijakan pendidikan di Amerika Serikat khususnya. Dengan kondisi pandemi yang masih belum bisa 100%, penelitian ini tampaknya cukup relevan dan penting untuk dipahami bersama.

Sumber: EurekAlert