Pil molnupiravir dari Merck

Perusahaan obat yaitu Merck dan Ridgeback Biotherapeutics mempublikasikan perkembangan dari pil COVID-19 buatan mereka.

Pil ini bernama molnupiravir dan diharapkan untuk bisa membantu pasien dengan COVID-19 sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit atau menekan kemungkinan mereka meninggal akibat penyakit itu. Sayangnya rincian perkembangan terbaru dari perusahaan menunjukkan bahwa obat ini tidak seefektif yang dianalisis sebelumnya.

Penelitian berjudul MOVe-OUT ini dipublikasikan pada Jumat lalu dan mengumumkan bahwa mereka kini sudah mempunyai data dari semua partisipan yang dilibatkan dalam penelitian. Tercatat obat antivirus oral ini mengurangi risiko-risiko tadi untuk pasien COVID-19 sebanyak 30 persen dibanding penelitian awal yang menyebutkan sekitar 48 persen.

Risiko perlu dirumahsakitkan dan kematian bisa diturunkan sekitar 6,8 persen hingga 9.7 persen pada grup placebo. Sebelumnya angka ini mencapai 7,3 persen hingga 14,1 persen pada analisis awal.

Perkembangan ini terbilang mengecewakan mengingat semakin dekatnya jadwal komite panel penasehat FDA untuk mengulas obat, efektivitas, serta profil keamanannya. Bila nantinya komite ini memiliki penilaian positif terhadap obat ini, tahap berikutnya adalah persetujuan oleh FDA untuk otorisasi penggunaan darurat (EUA/Emergency Use Authorization). Tentunya penggunaan darurat ini tidak mudah karena manfaatnya harus melebihi risiko yang muncul.

Jadwal ini direncanakan untuk tanggal 30 November waktu setempat, kurang dari satu hari lagi.

Para ahli memperkirakan FDA akan mengotorisasi obat ini sebagai cara baru untuk melawan kasus-kasus COVID-19. Yang menjadi pertanyaan pentingnya adalah obat ini untuk golongan atau profil pasien seperti apa.

Sedangkan Indonesia tampaknya hanya bisa mengandalkan vaksin dan protokol kesehatan yang harus terus dipertahankan. Tentunya lebih baik menggunakan vaksin yang juga diperbolehkan untuk anak-anak sehingga lebih terjamin efektivitasnya.

Sumber: Merck dan Ridgeback