Ilustrasi tenaga medis memegang kantong berisi plasma konvalesen

WHO sendiri tidak merekomendasikan metode peningkatan imunitas tubuh melawan COVID-19 dengan cara ini. Namun tampaknya ada data penguat.

WHO memang tidak merekomendasikan metode plasma konvalesen untuk melawan virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi. Lebih tepatnya pernyataan di situs resminya berbunyi:

“WHO kini merekomendasikan melawan penggunaan plasma konvalesen dalam perawatan orang dengan COVID-19 yang tidak parah, parah, dan kritis di luar pengujian klinis untuk orang dengan infeksi parah atau kritis dari virus SARS-CoV-2.”

Mereka tidak mengatakan bahwa metode ini berbahaya namun menegaskan tidak ada manfaatnya. Arahan WHO ini dibuat berdasarkan hasil penelitian mereka yang melibatkan 16 pengujian dan 16.236 pasien dengan COVID-19 tingkat tidak parah, parah, dan kritis.

Apa itu plasma konvalesen?

Ide terapi ini muncul dari pemahaman bahwa seseorang yang telah sembuh dari COVID-19 akan memiliki antibodi yang mampu melawan penyakit ini. Dengan mendonorkan plasma darah mereka, antiobi tadi bisa dipindahkan ke orang lain.

Metode ini tampaknya lebih efektif terutama bila orang kedua tadi terkena varian SARS-CoV-2 yang sama dengan pendonornya. Dr. Arturo Casadevall mengatakan bahwa terapi ini menjadi satu-satunya yang beradaptasi terhadap varian-varian baru karena siapapun yang sembuh bisa memberikan plasmanya kepada pasien yang tengah mengidap varian penyakit itu. Terutama untuk varian terbaru Omicron yang tidak terlacak oleh beberapa tes COVID-19.

Namun tidak semuanya setuju dengan WHO

Dr. Arturo Casadevall, direktur dari Molecular Microbiology and Immunology di John Hopkins Bloomberg School of Public Health mengatakan:

“Saya tidak tahu bagaimana WHO membuat keputusan mereka, namun saya merasa mereka salah. Saya sangat tidak setuju dengan rekomendasi WHO, yang tampaknya mengabaikan bahwa ada banyak bukti yang dipublikasikan untuk khasiat plasma konvalesen.”

“Setelah 1,5 tahun, kami belajar bagaimana cara menggunakan terapi yang kompleks namun murah dan sangat tersedia ini. Pandangan yang muncul sekarang adalah plasma konvalesen efektif ketika digunakan pada tahap awal penyakit ini, dengan unit plasma yang banyak mengandung titer andibodi dan banyak bersumber dari lokal.”

Menurut Dr. Arturo Casadevall, metode plasma konvalesen ini tersebar di Amerika Serikat dan sudah menyelamatkan sekitar 100 ribu nyawa. Ia menekankan bahwa penelitian yang digunakan oleh WHO lebih fokus pada pasien yang sangat sakit dan tidak bisa dengan antibodi.

Bahkan untuk pengujian klinis ini tidak diinterpretasikan oleh WHO dengan baik menurut Dr. Arturo Casadevall. Ia mengritik, menginterpretasikan datanya, dan menemukan bahwa efikasi awalnya sekitar 35 persen.

Pada akhirnya, yang membuat hampir semua pihak sepakat adalah pentingnya untuk menjaga kesehatan tubuh, menerapkan protok kesehatan, dan vaksin yang juga bisa dilakukan untuk anak-anak.

Sumber: Medical News Today