Ilustrasi biji anggur

Semua makhluk hidup akan mengalami penuaan. Penuaan mengakibatkan sejumlah penurunan kualitas. Namun ada cara untuk menundanya.

Salah satu alasan terjadinya penuaan adalah ketika sel tua (senescent cell) menumpuk dalam tubuh. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah mengidentifikasi sejumlah obat yang termasuk dalam kategori senolitik (senolytic). Obat ini bisa menghancurkan sel tua tadi dalam lab dan eksperimen binatang.

Pada penelitian terbaru ini, para peneliti menemukan sejumlah komponen dalam ekstrak biji anggur yang bisa memperpanjang usia dan kesehatan dari tikus. Penelitian ini muncul di Nature of Metabolism dan memberikan wawasan mendalam untuk penelitian berikutnya untuk melihat kemungkinan hasilnya akan sama pada manusia.

Komponen senolitik yang ada dalam ekstrak anggur tadi adalah procyanidin C1 (PCC1). Untuk melihat dampak dari PCC1 ini, para peneliti mengembangkan tiga eksperimen yang melibatkan tikus.

Eksperimen pertama

Pada eksperimen pertama, mereka memberikan radiasi dosis rendah pada tikus untuk meningkatkan sel tua. Satu grup tikus mendapatkan PCC1 dan satu grup lainnya mendapatkan pembawa PCC1 sehingga tidak mendapatkannya secara langsung melalui “kendaraan” (seperti dalam makanan).

Tikus yang mendapatkan radiasi mengalami penuaan pada umumnya yang terlihat dari peningkatan jumlah uban secara signifikan. Ketika para peneliti memberi PCC1 secara langsung ataupun tidak, tikus tadi memiliki sel tua serta ciri-ciri penuaan yang lebih sedikit. Tikus yang menua juga mengalami penurunan kapasitas olahraga dan kekuatan otot. Ciri-ciri ini juga berkurang banyak dan mereka memiliki tingkat bertahan hidup yang lebih baik.

Eksperimen kedua

Pada eksperimen kedua, para peneliti merawat tikus-tikus tua dengan memberikan PCC1 langsung atau melalui kendaraan setiap dua pekan selama empat bulan. Tikus-tikus tadi awalnya memiliki jumlah sel tua yang banyak pada ginjal, hati, paru-paru, dan prostat.

Perawatan PCC1 tadi memutarbalikkan dampaknya. Para tikus kemudian memiliki kekuatan menggenggam, kecepatan jalan, ketahanan bergantung, daya tahan di treadmill, tingkat aktivitas, dan keseimbangan yang lebih baik dibanding tikus yang hanya mendapatkan PCC1 melalui kendaraan.

Eksperimen ketiga

Pada eksperimen ketiga, para peneliti melihat dampak PCC1 pada tikus yang sangat tua. Hasilnya, tikus dengan perawatan PCC1 tadi memiliki hidup 9,4 persen lebih lama dibanding tikus yang hanya mendapatkannya melalui kendaraan. Bila dilihat dari pada saat pemberian perawatan PCC1 hingga akhir hidupnya, usia tikus-tikus tadi diperpanjang sekitar 64,2 persen.

Bagaimana dengan manusia?

Tentunya tidak mudah untuk langsung mengaplikasikan metode ini dari tikus ke manusia. Tikus adalah binatang dengan sistem yang lebih sederhana dibanding manusia. Namun tikus mirip dengan manusia sehingga dampak awal pada eksperimen tikus menggambarkan kecocokannya untuk manusia.

Dengan kata lain, hasil yang ini merupakan satu dari banyak langkah untuk mendapatkan metode pembalikan dampak penuaan pada manusia. Ini menjadi bukti pentingnya mengonsumsi buah (terutama anggur dalam penelitian ini) dan sayur sebagai makanan alami yang baik untuk kesehatan mental, dan bukan makanan-makanan merusak hormon.

Sumber: Medical News Today