Ilustrasi Omicron dengan peta dunia

Dua tahun sejak COVID-19 merajalela dan varian pertamanya seolah berita di masa lalu saja. Yang paling terkenal kini adalah varian Delta.

Yang tengah menjadi perhatian adalah varian SARS-CoV-2 bernama Omicron yang tampaknya bermula di Afrika Selatan. Varian ini dianggap akan menjadi gelombang baru dari penyebaran penyakit corona walau sementara ini terlihat tidak terlalu membahayakan.

FDA baru saja mempublikasikan analisis menyeluruh dari tes COVID-19 dan bagaimana mutasi viral berdampak padanya.

Sementara ini, FDA menerbitkan beberapa tes COVID-19 yang termasuk dalam Otorisasi Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari berbagai pemanufaktur. Hingga kini ada tiga jenis tes yaitu serologi (antibodi darah), antigen (protein virus), dan molekuler (RT-PCR). Beberapa mutasi viral (beberapa yang lebih signifikan dibanding lainnya) bisa berdampak pada performa dari tes COVID-19 manapun sehingga berpotensi meningkatkan kemungkinan negatif palsu (false negative).

Laporan FDA yang telah diperbarui kini termasuk Omicron yang disebut berdampak pada hasil tes COVID-19 reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR). Disebutkan pemanufaktur DTPM COVID-19 RT-PCR yaitu Tide Laboratories “diharapkan gagal mendeteksi” varian Omicron karena mutasi genetik pada versi ini.

Produk dari Tide Laboratories ini merupakan tes target tunggal yang berarti hanya melihat sebagian dari gen N virus ini. Mutasi yang tidak melibatkan pada area ini yang membuat varian Omicron tidak terdeteksi dan memberikan hasil negatif palsu.

FDA mengatakan bahwa mereka tengah bekerja sama dengan pembuatnya untuk “menyelesaikan masalah ini” serta juga kemungkinan tes ini tetap relevan untuk varian SARS-CoV-2 lainnya yang sudah beredar.

Beruntungnya banyak produk tes COVID-19 yang melihat banyak target, tidak hanya satu, sehingga mutasi tidak akan terlalu berdampak pada kemampuan pendeteksiannya. Hanya saja pendeteksian Omicron belum terlalu akurat dan kebanyakan produk tes yang sudah ada hanya mampu mendeteksi kemungkinan seseorang terkena varian Omicron seperti melihat gen S yang terputus. Kondisi ini juga tidak hanya eksklusif pada Omicron sehingga dibutuhkan lebih banyak tes lagi sebelum menyatakan seseorang terkena varian baru ini.

Walau disebutkan alergi dan asma mengurangi risiko terkena COVID-19, belum diketahui apakah hal ini juga berlaku pada Omicron. Maka tetap utamakan protokol kesehatan dan vaksin sebagai perlindungan utama mengingat pil COVID-19 kurang efektif menyembuhkan penyakit ini.

Sumber: FDA