Ilustrasi alergi dan pemicunya

Penyakit COVID-19 dengan berbagai variannya sudah mulai dipahami profilnya namun masih juga sejumlah informasi baru yang terungkap melalui berbagai penelitian.

Sebuah penelitian berskala besar di Inggris (United Kingdom) mengungkap sejumlah faktor risiko yang tumpang tindih antara terkena COVID-19 dan terkena penyakit parah. Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Thorax.

Para peneliti telah menyesuaikan sejumlah faktor yang mempengaruhi paparan terhadap SARS-CoV-2 dan menemukan bahwa ras-ras dari Asia serta dengan indeks massa tubuh yang tinggi lebih berisiko terkena COVID-19.

Mereka juga menemukan bahwa kondisi atopik seperti asma, eksema, dan demam alergi serbuk bunga justru berkaitan dengan berkurangnya risiko terkena COVID-19.

Penelitian ini menindaklanjuti dari penelitian berbasis populasi di negara itu. Para peneliti mengikuti sekitar 15.227 partisipan dari Mei 2020 hingga Februari 2021. Para partisipan mengisi sejumlah kuesioner mengenai gejala potensial COVID-19 dan hasil dari tes COVID-19 yang pernah diambil.

Selama penelitian, ada 446 partisipan yang terkena penyakit ini atau sekitar 3%. Berikut sejumlah faktor yang meningkatkan kemungkinan terkena COVID-19:

  • kerumunan dalam rumah
  • kunjungan ke rumah lain pada pekan sebelumnya
  • kunjungan ke ruang publik dalam gedung
  • pekerjaan baris depan, tidak termasuk tenaga kesehatan dan sosial
  • etnisitas Asia
  • peningkatan indeks massa tubuh

Penelitian ini menemukan bahwa tidak ada kaitan antara usia, jenis kelamin, kondisi medis lainnya, diet, hingga penggunaan suplemen. Yang pasti, tetap jaga jarak fisik serta memakai masker sesuai protokol kesehatan umumnya. Vaksin tetap diperlukan mengingat pil untuk COVID-19 tidak sebaik yang diharapkan.

Sumber: Thorax