Ilustrasi anjing Corgi yang tersenyum

Tidak selamanya pandemi memberikan dampak buruk bagi semuanya. Kali ini dampak baik ada pada pemilik binatang peliharaan anjing.

Ada banyak penelitian yang mengarah pada manfaat memiliki binatang peliharaan terutama anjing. Sebagai binatang dengan sebutan teman terbaik manusia, ada penelitian yang menyimpulkan bahwa pemilik anjing memiliki risiko kematian lebih rendah yang berkaitan dengan jantung seperti stroke atau serangan jantung. Bahkan sangat mungkin untuk melatih anjing untuk mendeteksi hipoglikemia pada penderita diabetes.

Kini tim peneliti dari Nestlé Purian Research di Saint-Louis, MO melaporkan bahwa para pemilik anjing melaporkan lebih sedikit mengalami depresi. Mereka juga merasa memiliki dukungan sosial yang lebih baik dibanding grup kontrol selama pandemi COVID-19.

Dr. Francois Martin, pemimpin penelitian dari Behavior and Welfare Group di Nestlé Purian Research mengatakan:

“Konteks dari pandemi COVID-19 menawarkan peluang unik untuk lebih baik memahami bagaimana cara anjing memberikan dukungan sosial kepada para majikannya, menahan peningkatan gejala stres, kecemasan, dan depresi, dan berkontribusi pada kebahagiaan.”

Para peneliti meyakini bahwa penelitian mereka menunjukkan bahwa memiliki anjing membantu mengamankan para pemilik anjing dari dampak negatif psikologis akibat dari pandemi ini.

Hasil penelitian ini dipublikasikan ke jurnal PLOS ONE.

Untuk penelitian observasional ini, Dr. Martin dan timnya menggunakan data dari 768 pemilik anjing dan 767 pemilik anjing potensial di Amerika Serikat yang berusia 18 tahun ke atas. Semuanya berpartisipasi dalam survei online.

Para peneliti menggunakan istilah “pemilik anjing potensial” untuk yang tidak memiliki anjing selama penelitian namun sangat tertarik untuk memiliki anjing di masa depan. Mereka berperan sebagai grup kontrol. Sedangkan pemilik anjing pelayan atau binatang terapi tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

“Secara keseluruhan, 33% responden kami mengatakan bahwa kesehatan tampaknya terdampak secara ekstrim, 45% mengatakan bahwa keuangan mereka terdampak secara ekstrim, 67% mengatakan bahwa emosi mereka terdampak secara ekstrim, dan 72% mengatakan bahwa gaya hidup mereka terdampak secara ekstrim.”

Sumber: Medical News Today