Ilustrasi pil COVID-19 Paxlovid

Dalam hitungan hari, pil ini akan tersebar ke seluruh Amerika Serikat.

FDA sudah menerbitkan otorisasi darurat (emergency authorization) untuk pil antivirus Paxloid buatan Pfizer. Maka obat ini menjadi yang obat oral pertama untuk kasus-kasus COVID-19 dengan gejala ringan hingga menengah. Pengobatan ini untuk orang-orang berisiko tinggi berusia 12 ke atas yang bisa mengidap gejala berat COVID-19.

Yang paling penting adalah FDA mengatakan obat ini bisa hadir secara luas dalam hitungan hari. Maka obat ini penting sebagai alat tambahan untuk menghadapi gelombang varian Omicron.

Tentunya Paxlovid ini akan tersedia dengan menggunakan resep dokter. Obat ini harus menjadi bagian dari pengobatan dalam hitungan lima hari sejak munculnya gejala COVID-19. Menurut pengujian dari Pfizer, obat ini bisa mencegah risiko pasien masuk rumah sakit atau meninggal hingga 88 persen pada pasien berisiko tinggi

Obat ini bisa untuk pasien yang sudah atau belum mendapat vaksin. Jumlah obatnya mencapai 30 pil yang dikonsumsi dalam hitungan lima hari. Di dalamnya termasuk penghambat protein nirmatrelvir dan rotinavir. Efek sampingnya adalah indera perasa yang terganggu, tekanan darah tinggi, diare, dan nyeri otot.

Hingga kini, Amerika Serikat telah memesan pil yang cukup untuk mengobati 10 juta orang. Perusahaan berencana untuk menyediakan pil untuk 65 ribu penduduk Amerika Serikat per pekannya. Setelah itu, produksi akan ditingkatkan menjadi 150 ribu pada bulan Januari dan 150 ribu pada bulan Februari juga.

Namun nantinya pil ini bukanlah satu-satunya yang menjadi solusi obat oral. Merck juga tengah mengupayakan untuk mendapat izin pil COVID-19 secepat mungkin dan mungkin lebih luas ketersediaannya dibanding Pfizer. Hanya saja tidak seefektif Pfizer dengan pencegahan risiko sebanyak 30 persen.

Sumber: FDA